wanita muslimah apakah diperbolehkan bekerja ataukah tidak,dan jika boleh bekerja apakah diperbolehkan juga untuk bekerja diluar rumah ataukah tidak

Pada roddus syubuhat kali ini kita akan membahas mengenai syubhat yang sering terdengar di khalayak umum khususnya yang melanda kalangan wanita muslimah akhir-akhir ini. Syubhat yang menyebar adalah mengenai wanita muslimah apakah diperbolehkan bekerja ataukah tidak,dan jika boleh bekerja apakah diperbolehkan juga untuk bekerja diluar rumah ataukah tidak ?

Dalam kaidah fikih terdapat satu kesimpulan bahwa asal semua dari muamalah adalah mubah atau boleh untuk dikerjakan. Akan menjadi haram jika ada dalil yang melarang atau mengharamkannya. Dan bekerja adalah termasuk dari bentuk muamalah seorang muslim dan muslimah yang mutlak dilakukan untuk mencari apa yang telah Alloh sediakan bagi dirinya untuk dapat menjalani hidup di dunia ini.

Satu hal yang perlu dipahami,adalah bagaimana hukum wanita bekerja menurut syara. Yaitu jika seorang wanita bekerja di luar rumah seperti laki-laki. Apakah dia boleh bekerja dan ikut andil dalam produksi,pembangunan,dan kegiatan kemasyarakatan. Ataukah dia harus terus-menerus menjadi tawanan dalam rumah,tidak boleh melakukan aktivitas apa pun. Sementara Islam memuliakan wanita dan memberikan hak-hak kemanusiaan kepadanya jauh beberapa abad sebelum bangsa Barat mengenalnya.

Oleh karena itu untuk dapat menjawabnya marilah kita simak firman Alloh dalam surat An-Nisa ayat ke 31 yang artinya: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya,dan memelihara kemaluannya,dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,kecuali yang (biasa) nampak darinya”.

Ayat tersebut merupakan aturan dari Alloh atau dalam kata lain wahyu yang diturunkan kepada Rosululloh saw untuk dijadikan pedoman hidup seluruh wanita. Dimana seorang wanita tidak boleh mengabaikan perintah yang terdapat dalam al-Qur’an,dan pedoman ini harus diterapkan di setiap waktu dan tempat.

Sekalipun wanita telah dijamin nafkahnya melalui pihak lain yaitu suami atau wali,bukan berarti Islam tidak membolehkan wanita bekerja untuk mendapatkan harta. Islam membolehkan wanita untuk memiliki harta sendiri. Bahkan wanita pun boleh berusaha mengembangkan hartanya agar semakin bertambah. Hal ini sebagaimana firman Alloh dalam surat An-Nisa ayat ke 32 yang artinya: “…Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan.”

Hanya saja wanita harus tetap terikat dengan ketentuan Alloh atau hukum syara’ yang lain ketika ia bekerja. Artinya wanita tidak boleh menghalalkan segala cara dan segala kondisi dalam bekerja. Wanita juga tidak boleh meninggalkan kewajiban apapun yang dibebankan kepadanya dengan alasan waktunya sudah habis untuk bekerja atau dia sudah capek bekerja sehingga tidak mampu lagi untuk mengerjakan yang lain. Justru wanita harus lebih memprioritaskan pelaksanaan seluruh kewajibannya daripada bekerja,karena hukum bekerja bagi wanita adalah mubah. Dengan hukum ini wanita boleh bekerja dan boleh tidak.

Apabila seorang mukminah atau muslimah mendahulukan perbuatan yang mubah dan mengabaikan perbuatan wajib,berarti ia telah berbuat maksiat atau dosa kepada Alloh. Oleh karena itu, tidak layak bagi seorang muslimah mendahulukan bekerja dengan melalaikan tugas pokoknya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Juga tidak layak baginya mengutamakan bekerja sementara ia melalaikan kewajiban-kewajibannya yang lain,seperti mengenakan hijab jika keluar rumah,bertemu dengan yang bukan mahrom dan lain sebagainya.

Perlu disadari bahwa ketika Allah Swt menjadikan tugas pokok sebagai ibu dan pengatur rumah tangga,Dia juga telah menetapkan seperangkat syariat agar tugas pokok ini terlaksana dengan baik. Sebab terlaksananya tugas ini akan menjamin lestarinya generasi manusia serta terwujudnya ketenangan hidup individu dalam keluarganya. Sebaliknya bila tugas pokok bagi kaum wanita ini tidak terlaksana dengan baik,tentu akan mengakibatkan punahnya generasi manusia dan kacaunya kehidupan keluarga.

Seperangkat syariat yang menjamin terlaksananya tugas pokok wanita ini ada yang berupa rincian hak dan kewajiban yang harus dijalankan wanita,seperti wajib memelihara kehidupan janin yang dikandungnya,haram menggugurkannya kecuali alasan syar’i,wajib mengasuh bayinya,menyusuinya sampai mampu mandiri dan mengurus dirinya. Ada pula yang berupa keringanan bagi wanita untuk melaksanakan kewajiban lain,seperti tidak wajib sholat selama waktu haid dan nifas,boleh berbuka puasa pada bulan Ramadlan ketika haid,hamil,nifas dan menyusui. Kemudian ada pula yang berupa penerimaan hak dari pihak lain,seperti nafkah dari suami atau wali. Semua ini bisa terlaksana apabila terjadi kerjasama antara pria dan wanita dalam menjalani kehidupan ini,baik dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.

Usaha manusia untuk memperoleh kekayaan demi memenuhi kebutuhan-kebutuhannya adalah suatu hal yang fitri. Pemenuhan kebutuhan manusia merupakan suatu keharusan yang tidak mungkin dipisahkan dari dirinya.

Namun manusia tidak boleh dibiarkan begitu saja menentukan sendiri bagaimana cara memperoleh kekayaan tersebut,sebab bisa jadi manusia berbuat sekehendak hatinya tanpa mempedulikan hak orang lain. Bila ini yang terjadi,bisa menyebabkan gejolak dan kekacauan di tengah-tengah masyarakat. Bahkan bisa mengakibatkan kerusakan dan nestapa. Padahal semua manusia memiliki hak untuk menikmati seluruh kekayaan yang telah diciptakan Allah di bumi ini. Oleh karena itu Allah telah menetapkan beberapa cara yang boleh bagi manusia untuk memperoleh (memiliki) kekayaan, harta. Antara lain dengan “bekerja”. Ini berlaku bagi pria dan wanita,karena wanita tidak dilarang untuk memiliki harta.

Tatkala wanita bekerja,selain harus menentukan jenis pekerjaan yang akan dijalankannya dihalalkan oleh syara’,ia pun harus memastikan bahwa situasi bekerjanya sesuai dengan ketentuan syara’. Apabila dalam melakukan pekerjaan tersebut mengharuskan wanita bertemu dengan pria,maka wanita pun harus terikat dengan ketentuan syara’ yang berkaitan dengan interaksi antara pria dan wanita dalam kehidupan umum atau bermasyarakat. Artinya ia tidak boleh bercampur baur begitu saja dengan lawan jenis yang bukan mahromnya tanpa aturan. Oleh karena itu harus difahami bahwa interaksi dalam kehidupan masyarakat antara pria dan wanita yang termasuk dalam system kerja,tidak lain adalah hanya untuk saling ta’awwun atau tolong menolong. Sehingga ketika bekerja pun bukan dalam rangka memanfaatkan potensi kewanitaan seperti kecantikan,bentuk tubuh,kelemahlembutan dan lain sebagainya untuk menarik perhatian lawan jenis.

Wanita muslimah pun harus menjaga adab ketika berinteraksi dengan laki-laki yang bukan mahromnya baik dalam tingkah laku,berbicara maupun setiap gerak-geriknya. Keterangan ini dapat dilihat dalam Qur’an surat al-Ahzab ayat ke 32 yang artinya: “… Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehinggaberkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya,danucapkanlah perkataan yang baik”

Demikianlah pembahasan rodus syubuhat kali ini. Semoga kita dapat mengambil faidahnya. wallohu waliyuttaufiiq

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s