Belenggu Ijazah

Oleh : Muhaimin Iqbal

Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumni hidayatullah.com

Tahun 1994 saya diundang untuk ceramah di sebuah institut finansial di Wellington – New Zealand. Mereka secara khusus mengundang saya karena saya menjadi orang pertama di luar New Zealand yang memperoleh gelar profesi tertinggi di institut tersebut. Beberapa tahun kemudian saya memperolehnya pula dari institut sejenis di Inggris dan di Australia. Tanpa saya sadari, gelar profesi yang didambakan para professional ini ternyata justru membelenggu saya sampai 14 tahun kemudian.

Dalam bentuk apa belenggu ini? dalam bentuk iming-iming untuk tetap bekerja di bidang tersebut di berbagai institusi bergengsi di dalam maupun luar negeri – dengan berbagai fasilitasnya. Bahkan beberapa tahun setelah bisa melepaskan diri dari belenggu tersebut-pun godaan itu masih sering datang.

Problem yang mengganggu yang di Indonesia menyebabkan pengangguran terdidik dalam jumlah sangat besar, kurang lebih masalahnya antara lain juga sama yaitu apa yang saya sebut belenggu ijazah ini.

Bila Anda lulusan terbaik dari perguruan tinggi terbaik dari fakultas terbaik misalnya. Ada lowongan yang Anda bisa masuki sesuai keinginan Anda di bank umum nasional ternama dan pada saat yang bersamaan ada koperasi BMT di lingkungan Anda yang juga membutuhkan Anda.

Seandainya keduanya mampu memberikan penghasilan yang sama sekalipun, hampir pasti Anda akan pilih bekerja di Bank Umum nasional tersebut. Kemudian Anda akan berfikir, ndak apa ada riba disitu – ini untuk sementara, ini untuk belajar, ini untuk memperoleh pengalaman. Tanpa Anda sadari proses yang dikira sementara untuk belajar dan memperoleh pengalaman tersebut bisa berlarut sampai usia pensiun! Ini adalah bentuk belenggu pertama.

Yang paling banyak adalah belenggu model kedua. Lulusan-lulusan biasa saja, dari fakultas biasa-biasa saja. Untuk ini Anda sudah meluangkan waktu dan jerih payah Anda sekurangnya selama 4 tahun. Lantas setelah mendapatkan ijazah, wajar kalau Anda sangat ingin ijazah tersebut berguna, bukan ? yaitu memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan ijazah Anda!!

Bagaimana kalau pekerjaan tersebut tidak cukup tersedia sehingga Anda harus berebut dengan puluhan ribu pemegang ijazah yang sama dengan Anda ? Disitulah masalahnya, Ijazah Anda akan membelenggu Anda dari mengeksplorasi peluang-peluang lain diluar yang terkait dengan ijazah Anda.

Bisa jadi ada pekerjaan baik di sekitar rumah Anda yang tidak memerlukan ongkos transportasi yang mahal untuk ke kantor. Penghasilan Anda mungkin sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan bila bekerja di kantoran, tetapi karena tidak perlu ongkos ke kantor – bila dihitung penghasilan netto Anda akan sama atau bahkan lebih tinggi.

Tetapi belenggu ijazah akan menghalangi Anda untuk mengambil pekerjaan semacam ini karena nanti Anda atau orang-orang di sekitar Anda berpikir “kok sarjana cuma begini pekerjaannya…?” “sayang ilmunya tidak diterapkan…dlsb. dlsb”.

Belenggu model ketiga adalah belenggu yang dikemas dengan ‘idealisme’. Belenggu ini akan bilang begini kurang lebih “saya bekerja dibidang ini bukan karena uang, tetapi karena ingin mengamalkan ilmu saya, ingin berbakti pada bangsa dan negara dlsb. dlsb”.

Untuk yang ketiga ini bila niat Anda lurus, mudah-mudahan diterima olehNya. Namun perlu Anda ingat bahwa sepanjang masa kerja Anda harus dijaga niat ini, jangan sampai di tengah jalan tergoda untuk korupsi, melakukan kecurangan, suap sana- suap sini, mengambil hak orang lain dlsb.

Lantas dengan ijazah-ijazah yang membelenggu ini apakah kita tidak perlu menyekolahkan anak kita tinggi-tinggi untuk memperoleh gelar sarjana misalnya ?. Tidak demikian juga, yang perlu dijaga adalah jangan sampai ijazah itu membelenggunya, itu saja  – ilmu-ilmunya sendiri selama ilmu itu bermanfaat dan dapat diamalakan –akan selalu baik untuk dikejar sampai setinggi mungkin.

Sebagaimana ijazah yang membelenggu, tanpa ijazah-pun juga jangan sampai membelenggu. Jangan sampai Anda enggan berkarya dibidang tertentu hanya karena tidak memiliki ijazah di bidang tersebut. Ilmu itu luas, bisa dipelajari secara formal maupun informal. Anda bisa menjadi apa saja dengan atau tanpa Ijazah !.

Apalagi dengan dunia internet yang menawarkan segala macam ilmu yang mudah dipelajari oleh siapapun yang mau dan mampu, maka kalau hanya pada tataran ilmu di bidang apapun – insyaallah itu bisa menjadi milik Anda.

Tetapi bukan hanya ilmu ini yang penting, ada yang lebih penting lagi yaitu apakah ilmu tersebut akan bisa Anda amalkan atau tidak. Kemudian masih ada yang jauh lebih penting lagi dari ilmu yang diamalkan ini, yaitu bisa menjadi amal yang ikhlas atau tidak.

Ketika sampai pada tingkatan amal yang ikhlas, maka tidak ada lagi kaitannya antara yang berijazah ataupun yang tidak – maka jangan biarkan keduanya (ijazah maupun tanpa ijazah) membelenggu kita semua.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s